PM Malaysia Mahathir Mohamad Mendesak "Komite ASEAN" untuk Berkoordinasi Masalah "Penanganan Bencana" di Palu, Namun Begini Jadinya!

Nama Komite ASEAN untuk Manajemen Bencana (ACDM) kembali muncul ke permukaan ketika Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, mendesak lembaga itu untuk mengoordinasikan bantuan penanganan gempa dan tsunami di Donggala serta Palu, Sulawesi Tengah.


Ia mengatakan bahwa sebagai tetangga, negara-negara ASEAN tak bisa tinggal diam ketika ada tragedi yang menyayat hati terjadi di Indonesia.

"Namun, membantu tanpa koordinasi yang baik dan perencanaan strategis hanya akan menghasilkan situasi yang sudah kacau semakin kacau. Bukan membantu, kita mungkin malah menambah masalah pada penyelamat lain," ujar Mahathir, sebagaimana dikutip Bernama.

Sponsored Ad


Melanjutkan pernyatannya, Mahathir berkata, "Jelas di dalam kondisi seperti itu, ACDM memegang peranan penting."


Didirikan pada 2003, ACDM berperan mengoordinasi dan melaksanakan berbagai kegiatan regional terkait manajemen bencana di wilayah negara anggota ASEAN.


Dilansir dari Center for Excellence in Disaster Management & Humanitarian Assistance, keanggotaan ACDM terdiri dari 10 kepala badan nasional yang bertanggung jawab atas manajemen bencana di masing-masing negara anggota ASEAN.

Sponsored Ad


Anggota ACDM di antaranya terdiri dari Pusat Manajemen Bencana Nasional milik Brunei Darussalam, Komite Nasional Manajemen Bencana milik Kamboja, Badan Nasional Penanggulangan Bencana milik Indonesia, dan lain sebagainya.

ACDM juga bekerja sama dengan berbagai badan internasional untuk manajemen bencana, seperti Kementerian Pertanian AS, Pusat Bencana Pasifik, Kantor Koordinasi untuk Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF), dan lain-lain.

Sponsored Ad


Badan ini pertama kali bertugas pada 7 Desember 2004 untuk memulai negosiasi perjanjian ASEAN mengenai manajemen bencana dan tanggap darurat, khususnya kerangka kerja sebagai tindak lanjut kesepaktan kerja sama dimulai pada periode 2004-2010.


ACDM memiliki semboyan "Satu ASEAN, Satu Respons", sebuah semangat dari ASEAN untuk merespons dan menanggapi bencana di wilayah itu sebagai negara pendukung.


Kepemimpinan ACDM diputar setiap tahun dari perwakilan 10 negara ASEAN. Setiap negara akan menyediakan satu orang yang ditunjuk sebagai perwakilan ACDM dan tiga orang alternatif untuk tujuan koordinasi.

Sponsored Ad


Dilansir situs resmi Asosiasi ASEAN, selain mendukung manajemen bencana, ACDM juga memberikan dukungan soal persamaan gender. Mereka mengakui pekerja dan peran perempuan merupakan sebagai komponen penting dalam perencanaan dan manajemen penanggulangan bencana.

Hal ini menyebabkan ACDM berupaya untuk mempekerjakan perempuan dan mempromosikan kesetaraan gender mengenai risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim.


Sumber: cnnindonesia.com

Kamu Mungkin Suka